JAKARTA – PT Jababeka Infrastruktur kembali menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan melalui capaian yang tidak hanya simbolis, tetapi juga sarat makna. Untuk keenam kalinya, perusahaan ini meraih penghargaan PROPER Hijau—sebuah pengakuan atas upaya yang melampaui sekadar kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
Momen itu berlangsung dalam balutan seremoni Anugerah Lingkungan PROPER 2026 di Sasono Langen Budoyo, kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Di tengah sorotan panggung, penghargaan diserahkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup kepada Didik Purbadi, yang mewakili perjalanan panjang perusahaan dalam membangun ekosistem industri yang lebih bertanggung jawab.
PROPER—Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup—bukan sekadar sistem evaluasi. Ia adalah tolok ukur keseriusan perusahaan dalam merawat lingkungan. Peringkat Hijau sendiri diberikan kepada mereka yang tidak hanya taat aturan, tetapi juga melampauinya: dari efisiensi sumber daya hingga pemberdayaan masyarakat yang terukur dan berdampak nyata.
Bagi Jababeka, pencapaian ini bukan hasil kerja instan. Selama setahun penuh, berbagai inisiatif dijalankan secara konsisten. Di antaranya adalah pengoperasian instalasi pengolahan air limbah (WWTP) yang mampu menjaga kualitas efluen sesuai standar, sekaligus menghemat ribuan meter kubik air bersih. Inovasi lain hadir melalui pengembangan Mini Scale Recycle Effluent WWTP, yang memungkinkan air hasil olahan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan non-potable.
Upaya tersebut diperkuat dengan pengendalian emisi berbasis efisiensi energi serta pengelolaan sampah yang mengedepankan prinsip ekonomi sirkular. Namun, keberlanjutan bagi Jababeka tidak berhenti pada aspek lingkungan. Di sisi sosial, perusahaan aktif menjalankan program pemberdayaan perempuan, memperkuat ketahanan pangan, hingga memperluas akses air bersih dan sanitasi. Dampaknya terasa di 14 desa dan 4 kecamatan sekitar kawasan, menjangkau ribuan pekerja dan puluhan ribu warga.
Dalam sambutannya, Didik Purbadi menekankan bahwa standar pemerintah yang semakin ketat justru menjadi pemicu inovasi. Ia menyebut, keberhasilan meraih enam PROPER Hijau merupakan refleksi dari sinergi berbagai pihak dalam ekosistem Jababeka.
“Keberlanjutan bukan sekadar kewajiban, melainkan warisan yang ingin kami tinggalkan,” ujarnya.
Semangat kolaborasi itu diwujudkan melalui pendekatan pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, sektor swasta, dan media. Seluruh elemen ini dipertemukan dalam forum City Council Jababeka, sebuah ruang dialog yang mendorong solusi lintas sektor.
Ke depan, langkah Jababeka tidak berhenti pada pencapaian ini. Inovasi teknologi ramah lingkungan terus dikembangkan, sementara dampak sosial kawasan diperluas. Dalam lanskap industri nasional yang terus berkembang, Jababeka berupaya menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pelaku, tetapi juga pelopor transformasi menuju kawasan industri berkelanjutan.
Enam penghargaan PROPER Hijau menjadi penanda perjalanan—bahwa industri dan keberlanjutan bukanlah dua hal yang bertolak belakang, melainkan dua sisi yang dapat berjalan beriringan menuju masa depan yang lebih inklusif dan bertanggung jawab. (red)






